PANDEMI BUKAN HALANGAN UTAMA MELAKUKAN PROSTITUSI
Pandemi ini membuat segala pengeluaran lebih banyak terkuras dibanding biasanya. Apalagi untuk memenuhi segala kebutuhan sehari-hari pastinya memerlukan biaya pemasukan yang lebih, khususnya pada mahasiswi. Saat itu, G salah seorang mahasiswi dari Universitas Swasta di daerah Bekasi mulai melaksanakan pekerjaannya seperti biasa, prostitusi online. Menurut penuturan mahasiswi yang menginjak semester 6 ini, ada beberapa faktor yang akhirnya membuat ia memilih ikut terjun dalam dunia prostitusi. Mendapat pemasukan lebih merupakan salah satu alasan G untuk melakukan prostitusi secara online.
“Kebutuhan wanita kan banyak yah, jadi butuh uang,” ujar G.
Dalam melakukan tindakan prostitusi online ini, G mengaku bahwa ia mendapatkan sebanyak 2 hingga 3 juta dalam perbulannya. Tindakan yang sudah ia lakukan semenjak awal pandemi Covid-19 ini termasuk sudah lama dijalankan. Bermula dari coba-coba karena ajakan dari teman seper lingkungannya yang memulai aksi tersebut hingga membuat G akhirnya benar-benar terjun ke dunia prostitusi online. Ditambah lagi status G yang sebagai mahasiswi membuat ia memiliki banyak pengeluaran mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga kuliah nya.
Hampir setahun lamanya ini, G mengaku bahwa tindakan dia ini belum pernah ketahuan oleh siapapun termasuk dengan orang tuanya. Walaupun ia menyebutkan bahwa orang tuanya mungkin saja tahu bahwa G memiliki lingkup pertemanan dari lingkungan bebas, namun untuk pekerjaannya dalam prostitusi online orang tuanya tidak mengetahui hal tersebut
![]() |
| Infografis Prosedur Prostitusi Online di Pandemi Covid-19 |
Memilih Pasangan
Selama melakukan tindakan ini pun, G mengaku tidak mau melakukan dengan sembarangan orang. Ia lebih memilih “bermain” dengan orang yang ia kenal, seperti teman atau kenalannya yang lain. Jika ia mendapatkan tawaran bersama orang yang ia tidak kenal, G lebih memilih untuk menolak dan tidak menerimanya terlebih dahulu. Hal ini G lakukan karena ia tidak mau terkena penyakit seksual lainnya, khususnya seperti di situasi pandemi saat ini.
Walaupun terbilang ia tidak keberatan melakukan pekerjaan tersebut, namun tetap memungkinkan untuk G agar dapat memikirkan hal untuk kedepannya. Karena itulah yang membuat ia lebih memilih menolak daripada mendapatkan kerugian pada badannya sendiri. G memang tidak mengharuskan calon klien nya ini memberikan syarat khusus seperti memberi hasil rapid atau swab test terlebih dahulu. Maka dari itu, ia memilih untuk melakukannya dengan orang yang ia kenal saja.
Media Sosial Menjadi Pilihan untuk Mem-booking
Tidak heran banyak sekali masyarakat yang memilih terjun dalam dunia prostitusi online. Walau hanya untuk sekedar melepas nafsu belaka, kebutuhan ekonomi dan sebagainya. Tidak terkecuali L, salah satu orang yang menjadi pelanggan dalam melakukan prostitusi online. L mengaku ia mendapat info - info tersebut dengan mencarinya melalui media sosial dan aplikasi chatting lainnya. Media sosial yang digunakan oleh L adalah Twitter. Hal ini karena di Twitter banyak sekali para Pekerja Seks Komersial yang biasanya menawarkan jasa mereka kepada para calon pelanggan. Walaupun begitu, L menyebutkan bahwa ia lebih sering melakukan booking online melalui media aplikasi chatting seperti Michat. Ia juga menyebutkan walaupun banyak yang menawarkan jasa di Twitter, namun di Twitter kerap terjadi penipuan. Maka dari itu L lebih memilih sistem booking melalui Michat dibandingkan dengan Twitter.
Pada saat melakukan transaksi ia tidak bertemu dengan muncikari terlebih dahulu, namun bertemu langsung dengan pelaku yang menawarkan jasa prostitusi online tersebut. L berpendapat bahwa bisa saja terjadi dua kemungkinan, misalnya ketika ia memesan melalui Michat dan yang membalas pesannya tersebut merupakan muncikari yang mengelola jasa prostitusi ini, namun ketika bertemu secara tatap muka untuk tahap eksekusi langsung diarahkan untuk bertemu dengan pelaku yang menawarkan jasa tersebut.
“Awalnya sih cuman iseng doang, trus oh yaudah ternyata gini ya kehidupan diluar sana.”
Pernah melakukan bukan berarti sering menjadi pelanggan prostitusi online. Inilah yang disebutkan oleh L. Ia mengaku tidak sering dalam membooking jasa para Pekerja Seks Komersial. Dalam kurun waktu sebulan pun ia tidak selalu memesan jasa tersebut. Memang terbilang tidak menentu karena L hanya membooking ketika ia menginginkan atau sedang merasa bosan saja.
L pun menyebutkan bahwa ia memiliki rasa takut dan tidak takut ketika melakukan kegiatan tersebut. Ia pun menyebutkan bahwa pasti harus pandai dalam memilih para pengguna jasa terlebih dahulu seperti ia selalu menerapkan hidup sehat dalam kesehariannya atau tidak.
“Ada harga ada kualitas,” ujar L
L pun biasanya menghabiskan biaya sebesar 200 hingga 600 ribu dalam menyewa para jasa para pekerja seks ini. Hal ini karena ia tidak menyewa secara keseluruhan namun hanya beberapa “service” saja.
Faktor Lingkungan dan Biaya Hidup
Tidak mengherankan memang bahwa tindakan prostitusi online ini masih banyak peminatnya, apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini tidak membuat mereka jengah untuk melakukan tindakan tersebut.
Masa remaja dan dewasa awal tentu menjadi masa labil bagi mereka yang menjalankannya. Maka tidak heran apabila banyak sekali dari mereka yang biasanya melakukan hal - hal negatif seperti tindakan prostitusi online ini, baik sebagai pelaku pemberi jasa maupun sebagai pelanggan. Hal ini karena pada masa ini lah mereka dituntut untuk mencari jati diri mereka, namun memang terdapat sebagian orang yang tidak dapat menentukan pilihannya pada hal yang bersifat positif. Lingkung pertemanan, lingkungan hidup, dan pendapatan menjadi salah satu faktor yang menuntun mereka untuk melakukan berbagai hal. Tergantung dari apakah faktor itu semua membawa mereka kepada hal yang positif atau negatif.
Berbagai tindakan yang dilakukan mereka menjadi pilihan dan tanggung jawab dari dirinya masing-masing. Mereka harus mampu dalam mengambil tindakan dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang mereka ambil. Termasuk pada tindakan prostitusi online seperti ini. Hal ini tentu dapat memberi dampak yang buruk dan memiliki resiko yang cukup tinggi akibat dari penularan penyakit seksual yang didapatkan. Selain itu, faktor lainnya yang menjadi tindakan prostitusi online ini marak terjadi adalah karena faktor biaya hidup yang cukup tinggi. Tuntutan hidup yang kurang khususnya di masa pandemi membuat para pelaku memilih terjun untuk melakukan pekerjaan ini.
Bagi mereka yang berada di usia remaja dan awal dewasa serta memiliki tuntutan biaya hidup yang tinggi membuat sebagian mereka melakukan tindakan ini. Maka dari itu pentingnya pemahaman dan informasi yang baik bagi mereka agar dapat melakukan tindakan yang tidak merugikan diri sendiri.
Link Podcast Investigasi klik:


Comments