^^Yang Tak Memilih Kita^^
Ketika
takdir tak dapat mempertemukan aku dan dia, maka aku hanya mampu
menyaksikan takdirnya dengan orang lain. Merubah takdir sama saja
merubah garis hidup karenanya aku tak ingin merubah takdirku apalagi
takdirnya.
Deburan sebuah pantai di
Jogja adalah backsong yang cukup indah sebagai pengiring tenggelamnya
matahari ke peraduannya. Menyisakan segaris warna orange di langit yang
mulai menghitam.
''aku gak mau melewatkan
waktu sedikitpun tanpa kamu Vi'' kata seorang laki-laki tinggi yang
mengenggam erat jemari Sivia-Gadisnya yang kini dalam rengkuhannya.
''aku sayang kamu'' katanya lagi lalu mengecup kening Sivia.
Sivia hanya tersenyum.
Semoga apa yang dikatakan Gabriel-kekasihnya adalah benar. Tak ada waktu
yang terlewati tanpa kisah mereka. Tanpa cinta mereka. Dan semoga saja,
itu bukanlah sebuah harapan. Dan semoga, cinta itu berakhir indah.
Gadis lain dan dalam
dekapan lelaki lain yang duduk di samping Sivia dan Gabriel, memandangi
sepasang kekasih di sampingnya dengan rasa emm, iri mungkin. Gadis itu
tahu, bahwa tak seharusnya rasa iri itu ada karena apa yang diberikan
kekasihnya melebihi apapun. Tapi rasa tak pernah dibisa dibohongi.
''love you Shill'' kata kekasih Shilla-Gadis itu.
Shilla mengangguk, tanpa
sepatah katapun. Karena dia tahu, jauh dalam hatinya kekasihnya itu
bukanlah siapa-siapa. Bukanlah orang yang dengan tulus dia cintai.
Kekasihnya adalah media untuk dia bisa terus ada di dekat lelaki
pujaannya yang kini tengah mendekap orang yang mungkin sangat dia
cintai.
Shilla menghela nafas
panjang. Memperhatikan dua orang di sampingnya. Dua orang sahabatnya dan
dua orang yang berarti. Dua orang yang jujur telah menyakitinya.
''aku masuk dulu ya Iel'' kata Sivia.
''duluan ya Shill, Vin'' pamit Sivia pada Shilla dan Alvin-kekasih Shilla.
''aku juga lah. Mau ngambil minum dulu'' kata Alvin.
Alvin menyusul Sivia yang
telah beberapa langkah di depannya. Shilla menghela nafas. Gabriel
terlihat mendekatkan tubuhnya ke samping Shilla. Lalu menyenderkan
kepalanya di bahu Shilla. Shilla tak menolak. Karena dia sangat
menikmati setiap waktu yang dia habiskan bersama Gabriel. Orang yang
selama ini diam-diam dia kagumi, yang diam-diam pula telah Shilla
cintai. Dan hanya Gabriel, bukan Alvin atau yang lain.
Sumpah tak ada lagi kesempatanku untuk bisa bersamamu
Kini ku tahu bagaimana caraku untuk dapat trus denganmu
Lirih Shilla melantunkan sebuah lagu yang dia pikir tepat dengan isi hatinya kini.
''nyanyi lagi Shill'' pinta Gabriel yang masih dalam posisinya, bersender di bahu Shilla.
Bawalah pergi cintaku
Ajak kemana engkau mau
Jadikan temanmu
Temanmu paling kau cinta
Shilla berhenti sejenak,
menghela nafas pendek. Gabriel mengenggam erat jemari Shilla. Seakan tak
ingin melepaskan Shilla. Tak ingin Shilla jauh darinya. Padahal, ada
Sivia yang seharusnya dia perlakukan seperti itu. Tapi entahlah, kenapa
Gabriel seperti ini pada kekasih sahabatnya itu.
Begitupun Shilla. Semakin dia
dekat dengan Gabriel, semakin dia takut kehilangan. Semakin tak kuasa
air mata yang selama ini dia tampung akan mengalir.
Disini ku pun begitu
Trus cintaimu di hidupku
Di dalam hatiku
Sampai waktu yang pertemukan
Kita nanti
Kini Gabriel yang
melantunkan lagu itu. Dan entah angin apa yang membuat mereka akhirnya
berpandangan. Gabriel yang menatap mata Shilla dan begitupun sebaliknya.
Keduanya mencari sebuah jawaban atas apa yang sebenarnya mereka cari
selama ini yaitu ketulusan.
Tapi Shilla tak pernah mau menatap mata Gabriel lebih lama. Hanya beberapa detik, Shilla langsung memalingkan wajah.
''Shil'' Gabriel
mengenggam erat jemri Shilla. Lalu mencium punggung tangan Shilla. Satu
tangannya beralih ke rambut Shilla. Membelai rambut Shilla yang terkena
terpaan ombak.
''biarkan aku mencintaimu dalam hatiku'' kata Gabriel dan masih menatap Shilla, tajam.
Shilla mengangguk lemah.
Bukan ini yang dia inginkan. Bukan cinta dalam hati. Tapi cinta yang
nyata. Sebuah cinta yang terungkap. Tapi apa daya, bukan takdir cinta
mereka untuk bersama.
''mungkin Tuhan tidak
mencantumkan namaku dan namamu dalam satu kertas takdir yang sama, tapi
aku yakin dalam kertas yang lain Tuhan telah menuliskan siapa yang
terbaik untukku dan untukmu Iel'' kata Shilla.
''yah. Tapi ketika nama
kita tercantum dalam satu lembar kertas yang sama, aku percaya bahwa
Tuhan punya cara untuk mempersatukan kita'' kata Gabriel.
''Shill'' panggil Alvin
dari kejauhan. Sontak, Gabriel menegakkan duduknya. Menghela nafas
panjang dan menghembuskannya dalam satu hentakkan.
Alvin mendekat membawa dua
botol softdrink. Satu telah dibuka dan satu yang lain masih tersegel.
Alvin lalu duduk di samping Shilla dan Gabriel, lebih tepatnya di
tengah-tengah Shilla dan Gabriel.
''mau Iel?'' tawar Alvin pada Gabriel sambil menyodorkan satu botol softdrink yang masih tersegel.
Gabriel menggeleng lemah, ''buat Shilla aja'' lanjutnya.
''nih!!'' Alvin memberikan
softdrink tadi pada Shilla. Shilla mengangguk dan mengambilnya. Lalu
detik berikutnya, minuman itu telah diminumnya.
Diam. Tak ada yang
berbicara. Hanya deburan ombak dan hempasan angin yang ada. Langit
benar-benar menggelap dan bintang mulai bermunculan.
''kita masuk aja yuk Shil.
Udah malem. Angin malem gak baik'' kata Alvin. Menarik tangan Shilla
pelan. Dan menit berikutnya keduanya telah berjalan menuju penginapan
mereka, meninggalkan Gabriel yang masih duduk di pantai.
Malam penuh bintang dan
bulan sabit yang seakan membentuk sebuah senyum. Shilla menatap langit
dari balkon. Hempasan angin dari arah yang berlawanan, menerpa rambut
Shilla yang tergerai. Pikirannya jauh, melambung. Menuju satu waktu
dimana semuanya mulai terjadi. Waktu dimana takdir sepertinya tak
berpihak padanya dan cintanya. Waktu dimana semuanya belum bisa dia
terima bahkan sampai sekarang. Waktu dimana cinta pertamanya tak bisa
dia miliki. Waktu dimana semuanya dimulai.
''kamu tahu bahwa apa yang kamu inginkan tak harus terpenuhi, Shilla?'' tanya mama Shilla pelan.
Shilla mengangguk. Tapi masih belum tahu kemana arah tujuan perbincangan ini.
''mama tahu kamu dekat
dengan Gabriel, dan mama juga merasa bahwa kalian saling menyayangi.
Lebih dari sekedar teman. Iya kan?''
Shilla diam. Tapi dalam hati, ia mengiyakan apa pertanyaan mamanya itu.
''tapi kamu harus tahu
Shilla, bahwa kamu gak akan dan gak boleh memiliki Gabriel'' kata mama
pelan, seakan tak ingin membuat anak sulungnya itu terkejut dan kecewa.
''kenapa ma?'' tanya Shilla pelan.
''dia telah dijodohkan dengan Sivia'' kata mama Shilla makin pelan.
Sivia? Sebuah nama yang tak
asing lagi untuk Shilla. Sivia adalah sepupunya sekaligus sahabatnya.
Sivia? Orang yang akan bersama Gabriel? Dan sepertinya, Shilla tak akan
mampu menerima kenyataan ini.
''opamu yang menjodohkan'' lanjut mama Shilla.
''kenapa bukan Shilla ma? Opa
Via juga Opa Shilla juga kan?'' pertanyaan dengan nada kecewa terlontar
dari bibir Shilla. Seakan benar-benar tidak terima dengan keputusan
Opanya itu.
''karena Sivia lebih tua dari kamu sayang'' mama Shilla membelai rambut anaknya itu seakan ingin memberi sedikit kekuatan.
''hanya beda 2 bulan, mama'' Shilla mulai menangis. Namun mamanya menghapus air mata yang membasahi pipi putrinya itu.
''ada yang lebih baik buat kamu daripada Gabriel'' kata mama Shilla lalu mendekap Shilla. Memberi lebih banyak kekuatan.
Shilla menghembuskan nafas
panjang. 3 tahun yang lalu, dimana dia tahu bahwa garis takdirnya tak
mempersatukan dirinya dan Gabriel. Dan sekarang ada Alvin yang dengan
tulus mencintainya. Tapi sampai sekarang, dia belum mampu untuk membalas
cinta Alvin. Dia menerima Alvin, agar dia bisa melupakan Gabriel dan
membuka hati, tapi sampai sekarang Alvin adalah pelarian. Tak ada rasa
cinta sedikitpun yang mampu Shilla berikan karena satu hal, Gabriel yang
masih setia mengisi setiap relung hatinya.
Alvin duduk di kasurnya
sambil memperhatikan Gabriel yang sedari tadi memegangi kalung yang dia
pakai. Alvin tahu bahwa kalung yang dikenakan Gabriel adalah sama
seperti kalung yang Shilla pakai. Alvin pernah bertanya pada keduanya
tentang kalung itu, dan jawabannya adalah hanya kalung persahabatan.
Tapi sebegitu berartinyakah kalung 'persahabatan' itu? Sampai Gabriel
terus memperhatikan kalung itu. Padahal seharusnya dia lebih memandangi
cincin pertunangannya yang harusnya lebih berarti itu dari pada
memandangi sebuah kalung persahabatan.
''kok lo ngliatin kalungnya gitu banget Iel?'' tanya Alvin.
''kayaknya biasa aja'' jawab Gabriel, tetap memandang kalung yang berbandul AG itu.
''ya kenapa lo gak ngliatin cincin pertunangan lo itu? Bukannya itu lebih berharga?'' tanya Alvin datar.
''bukannya persahabatan lebih berharga?'' tanya Gabriel balik.
''jadi lo lebih memilih kehilangan tunangan lo ketimbang sahabat lo?'' Alvin mulai pake nada tinggi.
''kalo gue bisa milih ya
gue bakal milih gitu'' jawab Gabriel yang sukses membuat Alvin
tercengang. Segitu berharganya Shilla?
Dan Gabriel, tetap
memandang bandul AG itu. Semua sepertinya terekam jelas dalam bandul
itu. Ashilla-Gabriel. Semua tersimpan dalam bandul itu. Karena bandul
itu bagaikan saksi bisu cinta yang sebenarnya masih ada diantara
keduanya.
''jangan pernah dilepas
Shill. Karena ini adalah tanda bahwa aku akan selalu di sampingmu'' kata
Gabriel sambil memakaikan kalung berbandul GA di leher Shilla.
''iya. Kamu juga ya?!'' kata Shilla lalu gantian memakaikan kalung dengan bandul AG.
''aku akan jaga kalung ini
Shill karena kalung ini punya banyak kenangan antara aku dan kamu''
batin Gabriel lalu mencium kalung itu. Lalu gantian Gabriel mencium
kalung salib yang selalu menggantung di lehernya.
_^
Sivia memandangi pantai
lepas. Entah apa yang dia pikirkan, namun yang jelas pikirannya kosong.
Matanya benar-benar menuju laut lepas yang tak tau ujungnya.
Tiba-tiba, Gabriel berada
di belakang Sivia dan memeluk pinggangnya. Desah nafas Gabriel begitu
terasa di telinga Sivia, namun Sivia tak beranjak. Tetap diam pada
pikirannya sendiri.
''kamu kenapa?'' tanya Gabriel lembut.
Sivia diam.
''sayang, kamu kenapa?'' tanya Gabriel lagi.
Kali ini, Sivia menggeleng.
''kamu ngomong aja sama aku!!'' kata Gabriel, sambil satu tangannya membelai rambut panjang Sivia.
''gak papa kok. Aku gak kenapa-kenapa. Kamu gak usah khawatir'' kata Sivia.
Gabriel mendekap Sivia
makin erat. Meskipun sebenarnya setengah hati Gabriel belum sepenuhnya
menjadi milik Sivia tapi inilah cara Gabriel untuk terus mencoba
mencintai Sivia. Seseorang yang akan mendampingi hidupnya nanti.
Shilla yang belum lama ada
di belakang mereka-GabrielSivia-merasa sesak. Sakit. Matanya penuh.
Kecewa. Dan akhirnya menangis. Berlari ke kamar.
''aku tahu Iel, kita
sama-sama mencoba melupakan satu sama lain. Tapi gak semudah itu aku
melupakan kamu. Meskipun 3 tahun aku mencoba, tapi sampai sekarang aku
masih belum bisa melupakan semua tentang kamu. Andai kamu tahu Iel, aku
selalu mencoba meski aku gak tahu butuh waktu berapa lama untuk terus
berusaha. Aku sayang kamu Gabriel'' kata Shilla dan diakhiri dengan
ciuman kecil pada bandul GA miliknya.
Shilla memilih untuk
menata pakaiannya. Nanti sore mereka akan kembali ke Jakarta. Mereka ke
Jogja untuk liburan. Sekedar melepas lelah. Dan Shilla pikir bahwa waktu
3 hari di Jogja ini justru semakin membuatnya terluka. Semakin banyak
yang tak bisa dia lupakan di sini. Semuanya serasa muncul kembali.
Perasaannya yang harus dikuburnya. Tapi tak bisa, perasaan itu malah
semakin datang dan terasa menghantui.
Begitupun Gabriel.
Meskipun selalu menunjukkan kemesraaan pada Sivia, tapi itu hanyalah
kamuflase untuk menutupi semuanya. Rasa semu yang dia hadirkan senyata
mungkin. Gabriel tahu, bahwa Sivia juga mengetahui tentang kedekatannya
dengan Shilla dulu. Makannya Gabriel lebih hati-hati, karena dia tak mau
menyakiti Sivia.
_^
Hal yang setiap malam
Shilla lakukan adalah menatap langit. Tapi kali ini, bukan langit yang
penuh bintang dan sebuah bulan yang terang melainkan langit hitam yang
sepertinya akan turun hujan.
Mata Shilla menerawang
jauh. Lalu menatap figura di tangannya. Dia-Gabriel-Sivia-Alvin. Liburan
di Jogja kemaren. Gabriel yang mengeratkan tangannya pada pinggang
Sivia dan Alvin yang merangkul pundaknya. Semua terasa bahagia, padahal
andai semua terungkap ini hanyalah kebohongan.
''Shill'' panggil Sivia lalu mendekat ke arah Shilla. Menyenderkan tubuhnya pada pagar pembatas balkon lalu menatap Shilla.
''gue boleh minta sesuatu gak sama lo?'' tanya Sivia. Shilla mengangguk tanpa kata.
''lepasin kalung berbandul
GA milik lo. Dan gue mohon jauhin Gabriel'' kata Sivia datar dan
tenang. Dan Shilla langsung menggeleng.
''untuk yang kedua gue bisa, tapi yang pertama gue gak bisa Vi'' kata Shilla berusaha tetap tenang.
''kenapa? Cuma kalung persahabatan kan?'' tanya Sivia yang seakan menyudutkan Shilla.
''justru karena kalung persahabatan itu makannya gue gak mau lepasin. Lagian kenapa mesti dilepas sih?'' tanya Shilla balik.
''karena gue gak suka lo
terus-terusan memandang kalung itu. Yah, kalung itu emang berarti tapi
gue tetep gak suka'' kata Sivia.
''sorry Vi, gue gak bisa. Dan sekarang lo boleh ninggalin gue'' kata Shilla.
''oke. Tapi gue harap lo jauhin Gabriel. Demi gue Shil, sodara lo'' kata Sivia lalu beranjak pergi.
Shilla menyadari satu hal.
Bahwa Sivia tahu apa yang Shilla rasakan pada Gabriel. Dan Shilla yakin,
Sivia telah meminta Gabriel untuk melakukan hal yang sama pada dirinya.
Dan itu membuat Shilla sadar bahwa ruang geraknya bersama Gabriel akan
semakin sempit.
''gue tahu kalian sama-sama
punya perasaan lebih satu sama lain, tapi gue cinta sama lo Iel dan gue
gak akan membiarkan Shilla memiliki elo meski hanya sebentar'' kata
Sivia.
_^
''Alvin sayang Shilla'' kata Alvin yang ada dipangkuan Shilla di halaman belakang rumah Shilla.
''Shilla sayang Alvin'' kata Shilla sambil menyibakkan poni Alvin yang menutupi matanya.
''jangan tinggalin Alvin ya!! Termasuk buat sahabat kamu'' kata Alvin.
''maksud kamu?'' Shilla tampak terkejut tapi Alvin tetap tenang.
''ya kan ada yang bilang
lebih baik kehilangan pacar daripada sahabat. Tapi aku gak mau itu
Shill. Alvin terlalu sayang sama Shilla'' kata Alvin.
Shilla mengangguk. Tahu kemana maksud perkataan Alvin barusan. Gabriel. Lagi-lagi.
''Alvin boleh minta sesuatu gak?'' tanya Alvin pada Shilla.
''apa?''
''sayangi Alvin seperti
Alvin sayang kamu. Alvin tahu, kalo Alvin gak sesempurna yang Shilla
pengen. Tapi inilah Alvin, diri Alvin bukan orang lain. Alvin mohon,
Shilla sayang sama Alvin dengan tulus, karena Alvin pengen Shilla bisa
ngasih itu ke Alvin'' kata Alvin, duduk menghadap Shilla dan mengenggam
tangan Shilla erat.
''Shilla coba Vin. Shilla akan berusaha, buat Alvin'' kata Shilla.
''tolong, kasih tahu Gabriel
kalo ada Alvin yang akan terus menjaga Shilla selama Alvin masih ada.
Jadi, dia gak perlu terlalu memikirkan Shilla'' kata Alvin.
Shilla diam. Alvin benar.
Bukan dirinya yang harus Gabriel perhatikan tapi Sivia karena ada Alvin
yang akan ada terus untuknya sampai nanti, sampai semua harus berakhir.
_^
Semua memang berjalan
sesuai kehendak takdir. Tak ada yang mampu dirubah karena akan terasa
berbeda. Cinta tak bisa dipaksa, karena cinta hadir dari dua hati yang
yang saling memiliki rasa. Tapi ketika cinta hadir diantara dua orang
yang tak seharusnya bersama, maka jalan yang paling baik adalah meminta
cinta itu berada dalam satu tempat terdalam dan terkubur seiring dengan
waktu yang terus berjalan agar cinta itu bisa hilang dan musnah bersama
kenangan, tapi ketika semua tak bisa dengan mudah kita lakukan, maka
cintailah dia dalam diammu.
''aku rasa kita memang
harus saling melupakan Iel. Kita punya kehidupan sendiri-sendiri, kita
sama-sama punya takdir dan takdir yang berbeda'' kata Shilla pada
Gabriel, di taman, sore hari.
''kamu mau mengubur cintamu?'' tanya Gabriel.
''ya. Dan aku akan berusaha
untuk mencintai Alvin, semampuku. Aku harap, kamu bisa mencintai Sivia
dengan tulus seperti apa yang dia berikan padamu. Kita cuma serpihan
masa lalu yang tak perlu dirangkai kembali, karena walaupun kita
berusaha tapi serpihan ini justru akan semakin menjadi butiran yang
lebih halus dan pada akhirnya hanya akan menjadi debu yang tak bersisa''
kata Shilla.
''dan selama itulah, aku hanya akan mencintaimu dalam diam'' kata Gabriel.
''dan selama itulah, kita harus saling melupakan'' kata Shilla.
Langit sore,
orange-kebiruan seakan menunjukan suatu bukti bahwa memang seharusnya
cinta itu tak tumbuh dihati kedua insan ini, karena buku takdir tak
memihak mereka untuk bersama. Karena mereka hanyalah sebuah contoh cinta
yang tak bisa bersatu.
Bukan masalah
memperjuangkan cinta, tapi mereka hanya tak mau merubah takdir yang
terlah digariskan Tuhan untuk mereka. Toh mereka percaya, bila jodoh
maka akan ada cara untuk bersatu. Dan ketika cara itu tak pernah
ditemui, maka takdir tak memilih mereka untuk bersama.
_^
T H E E ND
sumber : http://estericl.blogspot.com/2011/04/cerpen.html
Comments