Symphoni Yang Indah - Cerpen Idola Cilik CRAG -

-Alun sebuah Symphoni. Kata hati di sadari
            Merasuk sukma kalbu ku. Dalam hati ada satu
-
“guys, aku tinggal dulu ya” ucap Cakka. Iel mengacungkan jempolnya
“jadi, ini yang namanya persahabatan. Tentang aku, kamu & dia. Kita”
“kami di lahirkan dari keluarga yang berbeda. Kami pun berbeda agama”
“tak jarang kami bertengkar, berbeda pendapat & tak acuh”
“namun, tak lama kemudian, kami akur lagi”
“inilah persahabatan. Menyatuh & bersatu untuk saling melengkapi dan berbagi”
~Persahabatan bagai kepompong
            Maklumi teman hadapi perbedaan~
“Disini ada satu kisah
cerita tentang anak manusia
menantang hidup bersama
mencoba menggali makna cinta” suara merdu Rio menggema di sudut ruang aula sekolahnya.
“Tetes air mata
mengalir disela derai tawa
selamanya kita
tak akan berhenti mengejar matahari” suara mereka berempat semakin kompak membuat lagu itu semakin menyentuh.
-Manis lembut bisikkanmu. Merdu lirih suaramu
                        Bagai pelita hidupku
-
“kenapa sih Yo?, vitamin mulu?” Tanya Alvin
“biar gemuk kali’ Vin” ucap Iel dengan nada menyindir
“yang jawab nggak ngerasa cungkring?” Tanya Rio. Iel mengangkat bahu
“biar kami tidak sempurna. Tapi, persahabatan kita inilah yang kan jadikan kita lebih dari sempurna” sahut Cakka. Yang lain tersenyum
“Cakka ako deh” ucap Iel. Cakka cekikikan
“iyalah. Motivator ter perfect gitu” ucap Alvin
“apa salahnya berbagi pengalaman. Saat di antara kami kesusahan. Apa salahnya berbagi cerita saat kita mulai ragu dan resah” ucap Iel tiba tiba. Yang lain noleh
“coba Yel, ulang lagi” ucap Cakka
“hah? Tadi gue ngomong apa?” Tanya Iel kikuk
“barusan itu tadi” ucap Cakka
“mana coba. Gue gak inget” ucap Iel
“dasar lu. Anak orang” ucap Cakka. Rio noleh
“loe anak orang kan?” Tanya Rio. Cakka nyengir
-Berkilauan bintang malam. Semilir angin pun sejuk
            Seakan hidup mendatang. Dapat ku tempuh denganmu
-
“hai Yel. Ngapain disini sendirian?” Tanya Alvin menghampiri Iel yang tengah duduk di taman rumah
“lagi lihat bintang” jawab Iel. Alvin senyum
“hmm.. lagi ngangenin siapa?” Tanya Alvin
“kagak” jawab Iel datar
“gue tau bener sifat loe. Loe suka lihat bintang. Setiap loe lihat bintang. Pasti ada kerinduan tersendiri” ucap Alvin. Iel noleh. Dia nggak nyangka kalau ternyata Alvin seperhatian ini padanya
“iya. Gue rindu nyokap” jujur Iel. Alvin mengubah ekspresi wajahnya. Ia menghela nafas
“Yel.” Iel menoleh “rindu loe sama nyokap loe nggak sebanding dengan kerinduan gue.” Iel memperhatikan raut kerinduan dan harapan yang tergambar jelas di wajah Alvin. “loe masih punya banyak harapan untuk memeluk nyokap loe. Loe masih punya impian bertemu nyokap loe dalam waktu dekat. Sedangkan gue..” Alvin menghentikan sejenak “Cuma dapat itu saat gue udah nyusul beliau nanti” Iel mulai paham maksud Alvin
“Vin, makasih atas support nya. Tapi loe jangan bilang gitu. Kerinduan loe itu adalah kasih sayang yang terpendam. Vin, kita sama. Apapun punya gue. Punya loe juga. Jadi, jangan ngerasa loe itu sendiri. Masih ada gue, Rio & Cakka. Kita juga milik loe” ucap Iel. Alvin tersenyum
“thank’s Yel” jawab Alvin
Malam itu seakan menjadi saksi dua jiwa yang tak dapat di pisahkan
-Berpadunya dua insan Symphoni dan ke indahan
            Melahirkan kedamaian, melahirkan kedamaian
-
“kok loe pucet Yel?” Tanya Rio saat makan siang di kantin sekolah. Yang lain juga menoleh ke arah Iel. Iel menggeleng “loe sakit?” Tanya Rio lagi. Iel menggeleng lagi “bener?” Rio memastikan. Iel mengangguk. Cakka yang ada di sampingnya memegang kening Iel
“loe demam ya Yel” Tanya Cakka. Iel hanya diam
“ayo Yel. Gue antar ke UKS. Bentar lagi masuk. Gue gak ada pelajaran di kelas” ucap Alvin. Iel mengangguk
@UKS
“mama..” teriak Iel menghambur ke pelukan mamanya
“iell..” mamanya memeluk Iel juga
“aku kangen mama” ucap Iel manja
“mama juga..” jawab mama Iel. Alvin keluar UKS. Membiarkan sahabatnya melepas kerinduan pada sosok mama yang juga ia rindukan
-Syair dan melodi. Kau bagai aroma penghapus pilu
            Gelora di hati. Bak mentari kau sejukkan hatiku
-
Alvin bermain piano diruang tengah rumahnya & teman``nya. Ia bermain secara asal.
“Vin. Bisa berhenti gak? Budek tau lama`` dengernya” ucap cakka sambil bermain PS dengan rio
“tau dah. Mending gak usah main Vin” ucap Rio. Alvin menghentikan permainannya . Iel yg lagi asyik makan kue menghampiri Alvin.
“kenapa Vin? “Tanya Iel duduk disamping Alvin. Alvin tak menjawab “kalau ada masalah cerita aja” ucap Iel sambil mengalunkan nada`` indah di tuts tuts putih dan hitam grand piano itu.
“udah baikan?” Tanya Alvin. Iel mengangguk.
“kulihat embun menghalangi pancaraan wajahmu tak terbiasa kudapati terdiam mendura
Apa gerangan bergemuruh. Diruang benakmu
sekilas kalu mata ingin berbagi cerita
kudatang sahabat bagi jiwa
saat batin merintih
usah kau lara sendiri
masih ada asa tersisa
letakkan tanganmu diatas bahuku
biar terbagi beban itu dan tegar dirimu
didepan sana cahya kecil tuk memandu
tak hilang arah kita berjalan menghadapinya” Iel mengakhiri permainan piano dan nyanyiannya disertai senyum manisnya
“keren yel” puji Alvin tulus. Iel tersenyum
“makasih” suasana hening. Hanya ada suara speaker TV dari PS Rio dan Cakka. Alvin masih Nampak murung dengan lamunannya. Iel hanya melihat secara detail wajah Alvin. Sosok yang selama ini ia anggap kakak. Sosok yang selama ini ia anggap orang terhebat yang pernah ia kenal. Tapi adakalanya juga bila ia memiliki kelemahan. Entahlah, Alvin tak tahu itu
-Burung-burung pun bernyanyi. Bunga pun tersenyum
                        Melihat kau hibur hatiku-
“yel.. gue boleh pinjem duit gak?”Tanya Alvin sambil memegangi dadanya yang terlihat sesak
“kenapa loe?”Tanya Iel melihat wajah Alvin yang terlihat pucat pasi itu
“ayolah, plisss” ucap Alvin masih meringis kesakitan
“loe sakit?, mau ke rumah sakit?, gue antar ya?” Tanya Iel bertubi-tubi sambil berdiri dan menyangga bahu Alvin
“nggak gue nggak papa. Cuma sesek dikit doang kok. Nih udah nggak papa” ucap Alvin –bohong- sambil menegakkan badannya. Sedikit susah untuk tegak. Tapi demi sahabatnya yang over protektiv ini padanya
“nggak. Gue nggak percaya” Iel membantah
“bener Yel, ya udah deh, kalau nggak mau ngasih. Gue pergi dulu” ucap Alvin sambil berusaha berjalan tegak. Tapi baru beberapa langkah, Iel memanggilnya
“eh Vin” Alvin menoleh “nih” Iel menyodorkan dua lembar uang lima puluh ribu rupiah pada Alvin. Alvin masih diam termenung
“kebanyakan Yel, gue Cuma minta gocap doang” ucap Alvin polos
“duitnya gak mau sama gue. Udah, buat loe semua aja. nih” Iel memaksakan. Terpaksa juga Alvin menerimanya
“makasih ya yel” ucap Alvin dengan senyumnya. Iel mengangguk
***
“halo” suara Rio tersendat sendat
“ada apa yo?”Tanya Alvin
“Vin, Iel Vin.. Iell” ucap Rio dengan sedikit terisak
“iya, kenapa Iel?, ada apa?”Tanya Alvin sedikit bingung
“Iel.. Iel kecelakaan” ucap Rio cepat
“Apa?? Kecelakaan?, dimana sekarang?”Tanya Alvin yang tubuhnya mulai bergetar hebat.
“di rumah sakit Dharma Bakti” ucap Rio. Alvin segera mengakhiri sambungannya
“guys. Gabriel kecelakaan. Gue sekarang ke rumah sakit dulu” pamit Alvin sambil mengenakan jaketnya
“hati-hati sob. Jangan ngebutt. Inget keadaan” ucap Ozy teman balapan Alvin. Alvin tersenyum tipis
-Hatiku mekar kembali
   Terhibur Symphoni-
Alvin berlari cepat menyusuri koridor rumah sakit. Tak peduli orang-orang yang memandangnya dengan tatapan aneh. Sesampainya di depan ruang UGD, Alvin menemukan Cakka yang tertunduk lemas. Sementara Rio disampingnya terlihat memegang tangan kanan Cakka yang bergetar itu
“Yo.. Kka..” panggil Alvin sembari mengatur nafasnya. Rio menoleh. Cakka tetap saja menunduk “gimana Iel?”Tanya Alvin. Rio mengangkat bahu
“masih di tangani Vin” ucap Rio. Alvin Nampak tambah pucat dibandingkan tadi pagi saat Iel menanyainya
“Arghhhh” erang Alvin memegangi dadanya yang sesak
“Vin..” Rio dengan sigap menahan tubuh Alvin yang tiba-tiba ambruk. Cakka tersadar dari lamunannya. Ia membantu Alvin berdiri. Namun tak sampai Alvin berdiri tegak. Ia sudah pingsan
***
Gundukan tanah yang masih basah di depan mereka menyelimuti duka yang amat mendalam. Seorang sahabat yang sangat mereka sayangi telah pergi. Pergi untuk selama lamanya. pagi ini terlihat amat sepi. Tak ada guyonan guyonan dan tingkah konyol satu sahabat mereka ini. Cuaca pun juga ikut turut berduka atas kehilangannya sahabat terbaik mereka. Gabriel telah dipanggil Tuhan, kecelakaan yang menyebabkan pendarahan besar dikepalanya tak mampu membuatnya bertahan lebih lama lagi
“Yel, loe yang tenang ya disana. Jangan buat kita kecewa atas kepergian loe. gue disini bakalan selalu inget loe sampai kapanpun” ucap Cakka sambil mengelus nisan putih yang bertuliskan nama ‘Gabriel Damanik’
“gue harap, loe tersenyum di atas sana. Gue harap loe akan selalu menjaga kita sampai kapanpun. Walau dunia kita sekarang udah beda. Gue akan selalu rindu loe yel” kini gantian Rio yang berbicara. Ia menatap makam Iel dengan nanar. Masih amat merasa kehilangan, air matanya tumpah sebanyak mungkin. Sampai rasa dukanya ini benar-benar hilang. Namun tak dapat di pastikan. Rio masih berfikir keras, bagaimana nanti ia bercerita pada Alvin saat dia sadar nanti. Ia tahu, bahwa Alvin pasti akan menjerit tak terima menerima pernyataan ini. Namun apadaya, semua telah terjadi. Tak bisa mereka ubah kembali. Gabriel sang periang, Gabriel sang ketos, Gabriel sang kapten basket. Dan Gabriel sang pelawak telah pergi. Menuju keabadiannya. Ia menunggu ketiga sahabatnya disana. Dengan senyum dan khasnya.
***
Perlahan jari jemari Alvin bergerak. Mata sipitnya perlahan juga ikut terbuka. Rio yang ada disampingnya langsung memencet tombol kecil yang ada di samping ranjang Alvin. Dokter pun segera masuk dan memeriksa keadaan Alvin. Setelah dipastikan cukup membaik, namun keseluruhan organ tubuhnya, termasuk paru-parunya yang menjadi faktor utamanya juga masih sangat lemah. Rio dan Cakka kembali masuk. Disambutnya keduanya dengan senyum tulus Alvin. Walau wajahnya masih sangat pucat. Tapi takkan menghilangkan semangat jiwanya untuk tetap bertahan
“hai…” sapanya lirih
“Vin…” Cakka mendahuluinya. Ia tahu bahwa Rio tak sanggup menceritakan ini pada sahabatnya yang kini terbaring lemah tak berdaya dengan segala macam alat medis. Dan tentu juga penyakit sialan yang selama ini Alvin sembunyikan dari siapapun. “Iel udah pergi” ucap Cakka sambil mengusap jari-jemari Alvin “Iel udah di paggil Tuhan” lanjutnya. Namun Cakka tak melihat gurat kekagetan atau rasa syok di ekspresi wajah Alvin
“Iel udah pamit kok sama aku” kata Alvin. Cakka dan Rio terlihat kaget “Cakk, Yo,, gue boleh gak nyusul Iel?”Tanya Alvin tiba-tiba yang sontak membuat keduanya tergejolak kaget
“apaan sih Vin. Ngaco’ aja deh ngomongnya” ucap Cakka sambil tersenyum hambar menutupi rasa kagetnya
“bener Cakk, gue rasa, umur gue udah nggak lama lagi” ucap Alvin lirih
“gue nggak rela loe pergi. Udah cukup Iel aja yang pergi. Ya, jangan pergi ya, temenin kita” ucap Cakka sambil sedikit memohon pada Alvin
“kalau bener ini takdir Tuhan buat gue, gue titip Apa yang gue punya, apa yang Iel punya. Jagain dengan bener. Jangan buat gue sama Iel kecewa. Gue sama Iel nunggu kalian disana. Tapi jangan cepet-cepet ya, gapai dulu mimpi loe berdua. Sampai loe udah sukses. Gue baru bisa tersenyum bangga dan puas dengan apa yang loe raih” ucap Alvin panjang, tapi sambil sesekali berhenti untuk mengambil nafas. Cakka menoleh ke arah Rio yang sedari tadi menunduk mendengar penuturan Alvin.
“gue ikhlas, asal loe bahagia” ucap Rio tiba-tiba. Alvin tersenyum. Senyum keabadian
***
“Vin, loe kuat ya Vin, tahan Vin,. Loe pasti bisa Vin” ucap Cakka sambil menggenggam erat tangan Alvin yang dipenuhi dengan keringat dingin. Sementara Rio yang sedari tadi mengelap keringat yang terus terusan mengucur deras dari pelipis Alvin.
“Ca..Kka…” panggil Alvin
“iya Vin, iya, gue disini, disamping loe” jawab Cakka semakin menggenggam erat jari-jemari Alvin
“Yo…” panggil Alvin pada Rio. Rio menoleh
“Apa Vin?”Tanya Rio sambil menatap Alvin miris
“ja..ngan..beer…teeng..kar..laa..gii….” ucap Alvin yang nafasnya semakin tak teratur itu
“kita janji gak akan bertengkar lagi. Tapi loe harus kuat ya” ucap Cakka yang mulai meneteskan air mata itu
“ja…ngaan..na..ngis…gu..e..ben…ci…a..ir…maa…tta” kata Alvin sambil berusaha menghapus air mata Cakka
“iya, maaf Vin.” Ucap Cakka selagi tersenyum. Dibalasnya senyum itu dengan kelembutan yang tak sebanding dengan apapun. Senyum seorang sahabat. Kini gantian Alvin menghadap Rio
“ja…gaa…in…Ca..kka…” ucap Alvin penuh dengan ketulusan. Rio mengangguk “ik..lass..in..gu…e” ucap Alvin lagi. Rio mengangguk lagi. Cakka juga mengangguk.
“loe harus janji sama gue. Loe harus tetep tersenyum” ucap Rio. Alvin mengangguk
“jan..ji…ja..ngan…bu..at…Ca..ka..sa…kitt..ha….ti..kar…na..ce..wek” ucapnya “gu…e…per..gi” ucap Alvin sangat lirih. Dan, setelah berbicara itu, Mata indah Alvin tertutup. Dan takkan pernah terbuka lagi. Takkan pernah menjadi sosok Alvin yang ceria dan cool. Takkan ada lagi Alvin sang ketua tim sepak bola putra disekolah. Takkan ada lagi suasana berantem yang dibuat Rio dan Alvin saat mengetahui Rio menyakiti Cakka. Dan.. Takkan ada lagi Alvin sang penghutang setia kantin sekolah.
-Pasti hidupku kan bahagiaaa-
“Kalian tahu kan, siapa Avalanna Routh?. Kalian pernah mendengar ceritanya?. Ia pergi setelah bertemu Justin Bieber. Tapi, aku tak mengharapkan aku bertemu orang yang sangat aku idolakan. Tapi, aku hanya berharap satu. Tuhan mempertemukan aku dengan raga-raga yang sering ku sebut Sahabat. Dia mempertemukan kami dalam senyuman. Dan, jika kami berpisah, aku tak ingin ada tangisan nantinya. Senyumlah sahabat, kita berpisah hanya sekejab saja. Aku menunggumu disini. Dirumah Tuhan”
“Rencana Indah. Ya, memang ada. Rencana Tuhan selalu indah. Jika kita pernah tersenyum saat berada dalam kesempitan. Saat ini, senyumlah, kehilangan bukan berarti sudah tak memiliki. Kita bertemu dengan sejuta senyum lepas. Kali ini, jangan pernah segan-segan untuk tersenyum. Kala aku kini sudah tak berada disampingmu. Tetaplah tegar menghadapinya. Jalan hidupmu masih panjang. Jika nanti kita bertemu kembali. Akan ku ingat kisah kita. Kisah yang selama ini kita rangkai bersama. Dalam satu kehidupan. Yang bernama Persahabatan”
“Aku bersyukur karna telah memilikimu. Memiliki orang-orang yang telah menjadikan semangat dalam diammu. Aku sangat ingin sepertimu, menjadi yang terbaik. Menjadi yang terindah. Walau kau telah tiada disisiku”
“Kau ada, aku ada. Tapi mengapa, saat kau pergi aku tak pergi. Tapi aku tahu, kau telah membuat bintang dihidupku. Menjadi kekuatan untuk kuhadapi. Dan.. Terimakasih, kau telah membuat Symphoni Yang Indah di hidup ini. Aku kan selalu merindukanmu. Selamat jalan sahabat. Doaku menyertaimu”

…Tamat…

sumber :  http://aulia-jihan-raa.blogspot.com/2014/04/symphoni-yang-indah-cerpen-idola-cilik.html

Comments

Popular posts from this blog

Tips dan Praktik Liputan Investigasi ala Budy Setyarso

TIPS MEMANJANGKAN RAMBUT SECARA ALAMI

Perubahan Iklim Dunia dari Film "Before The Flood"